China Blasts Japan-Philippines Sea Boundary Talks as Breach of International Law
China escalated its criticism of planned maritime boundary talks between Japan and the Philippines, issuing a legal opinion that says the proposed delimitation in waters east of Taiwan...
Philippines Customs Chief Signals ‘All-Out War’ After ₱980 Million Cigarette Bust in Cebu
The Philippines’ Bureau of Customs is ramping up its campaign against illicit trade after intercepting an estimated ₱980 million worth of illicit cigarettes hidden in 25 container vans at a...
UK Sees Supply-Chain Gains as Philippines Joins CPTPP Accession Pipeline
The Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership is moving toward a new phase of expansion, with member economies agreeing to start preparatory discussions on potential...
Gokongwei to Take 15% Stake in PhilWeb With ₱2 Billion AI Push
PhilWeb Corp. secured a strategic equity investment of about ₱2.03 billion from businessman Lance Y. Gokongwei, giving the listed technology firm fresh capital to accelerate its expansion into...
BSP Push Spurs Wave of Lower Digital Transfer Fees Across Philippine Lenders
Digital money transfers in the Philippines are getting cheaper as banks and e-wallets cut or waive fees to comply with new pricing rules from the Bangko Sentral ng Pilipinas (BSP). The central...

Ruang Fiskal Masih Lega, APBN 2025 Tetap Tertekan Defisit dan Pendapatan Lesu

05.07.2026


Pemerintah menegaskan posisi fiskal Indonesia pada akhir 2025 masih berada di zona aman, meskipun realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun tersebut dibayangi oleh pendapatan yang meleset dari target dan tekanan defisit. Dalam Rapat Paripurna DPR ke-23 masa persidangan V tahun sidang 2025–2026, Kamis (2/7/2026), Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBN 2025, sekaligus menyoroti peran Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebagai bantalan fiskal utama.

Purbaya menjelaskan, posisi SAL pada awal 2025 tercatat sebesar Rp457,54 triliun. Sepanjang tahun berjalan, pemerintah memanfaatkan Rp93,15 triliun dari dana tersebut untuk mendukung pembiayaan APBN. Di sisi lain, pemerintah membukukan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) sebesar Rp72,40 triliun dan melakukan sejumlah penyesuaian. Alhasil, posisi SAL per 31 Desember 2025 tercatat Rp438,26 triliun, yang dinilai masih memadai untuk berfungsi sebagai penyangga fiskal menghadapi berbagai risiko dan ketidakpastian ke depan.

Dari sisi kinerja anggaran, Purbaya mengakui banyak target APBN 2025 yang tidak terpenuhi. Realisasi pendapatan negara dan hibah hanya mencapai Rp2.765,13 triliun atau 92,01% dari target dalam APBN 2025 yang dipatok Rp3.005,12 triliun. Kelesuan terutama terjadi pada penerimaan perpajakan yang hanya terealisasi Rp2.218,17 triliun atau 89,05% dari sasaran. Pemerintah menyebut tekanan eksternal berupa fragmentasi perdagangan, eskalasi tensi geopolitik, serta penyesuaian kebijakan dalam negeri seperti perubahan PPN barang mewah dan percepatan restitusi pajak sebagai faktor yang menahan laju penerimaan.

Kendati demikian, neraca pemerintah dinilai tetap solid. Per 31 Desember 2025, total aset pemerintah tercatat sebesar Rp14.600,98 triliun, sementara total kewajiban mencapai Rp11.527,29 triliun. Dengan demikian, ekuitas pemerintah atau kekayaan bersih negara berada di level Rp3.073,69 triliun. Dari perspektif operasional, pendapatan pemerintah tercatat Rp3.006,42 triliun, sedangkan beban operasional mencapai Rp3.429,51 triliun sehingga menimbulkan tekanan defisit pada laporan operasional. Pemerintah menilai kombinasi SAL yang kuat dan neraca yang positif mencerminkan kapasitas fiskal yang masih cukup untuk menjaga stabilitas sekaligus menopang agenda pembangunan secara berkelanjutan, meski disiplin kebijakan tetap dibutuhkan untuk merespons dinamika ekonomi global dan tekanan pendapatan ke depan.